Home » Mengenal Happy Hypoxia, Gejala serius yang dialami Pasien COVID-19

Mengenal Happy Hypoxia, Gejala serius yang dialami Pasien COVID-19

  • by

Dilansir dari Kompas.com & Science mag, Masih banyak hal yang harus dikonfirmasi terkait infeksi COVID-19 dan kondisi pasiennya. Hasil penelitian terbaru ini menarik perhatian para peneliti dari seluruh dunia, termasuk Indonesia, ini merupakan Gejala Happy Hypoxia yang dialami pasien Covid-19. Di Indonesia, beberapa kasus di beberapa daerah ditemukan pasien Covid-19 yang menderita Happy Hypoxia. Pasien baik-baik saja, tapi kadar oksigennya tiba-tiba turun, jadi fatal.

Happy Hypoxia tampaknya menentang biologi dasar: pasien yang terinfeksi dengan tingkat oksigen darah yang sangat rendah, atau hipoksia, memainkan ponsel mereka, mengobrol dengan dokter, dan secara umum menggambarkan diri mereka Sehat & tanpa masalah. Dokter menyebut mereka Happy Hypoxia

Happy Hypoxia didefinisikan sebagai “penurunan tekanan parsial oksigen dalam darah”. Ketika kadar oksigen darah mulai berkurang, seseorang mungkin mengalami sesak napas, yang juga disebut dispnea. Jika kadar oksigen dalam darah terus menurun, organ-organ dapat mati, dan masalahnya menjadi mengancam nyawa.

COVID-19 pada dasarnya adalah penyakit pernapasan, dan kasus yang parah dapat mengurangi jumlah oksigen yang dapat diserap paru-paru. Tingkat oksigen darah ditemukan sangat rendah pada beberapa pasien COVID-19.

Seperti diberitakan di berbagai sumber media, termasuk Science, meskipun kadar oksigen dalam darah rendah, beberapa pasien tampaknya dapat berfungsi tanpa masalah serius atau bahkan sesak napas.

Dokter spesialis paru sekaligus Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Agus Dwi Susanto, membenarkan kondisi happy hypoxia syndrome bisa ditemukan pada pasien positif Covid-19. “Kita ketahui bahwa Covid-19 ini, organ yang paling sering terkena kan paru. Meskipun saat ini juga banyak manifestasinya di luar paru, tapi organ yang paling sering terkena komplikasi adalah paru,” kata Agus Selasa (12/8/2020). Ia menjelaskan hypoxia syndrome merupakan kondisi seseorang dengan kadar oksigen rendah dalam tubuh. Normalnya, kadar oksigen di dalam tubuh seseorang adalah di atas 94 persen.

Hypoxia syndrome, kata dia, diawali dengan peradangan paru-paru atau pneumonia yang membuat perputaran oksigen terganggu. “Darah yang kurang oleh oksigen ini kan nantinya akan masuk ke jantung dan didistribusikan ke seluruh tubuh, akibatnya jaringan-jaringan dan organ tubuh yang lain ikut mengalami kekurangan oksigen, yang disebut sebagai hypoxia,” kata Agus. Terlihat normal Sementara itu, terkait happy hypoxia syndrome, Agus mengungkapkan kondisi tersebut terjadi ketika seseorang yang mengalami hypoxia syndrome tetapi terlihat seperti orang normal. Agus mengaku menemukan kondisi happy hypoxia syndrome di beberapa pasien Covid-19 yang dirawatnya. Namun, ia belum bisa mendetailkan, berapa persentase pasien Covid-19 yang terkena happy hypoxia syndrome.

baca juga : cara menghadapi rekan kerja yg malas

Sebab, belum ada penelitian terkait hal tersebut. “Pengalaman saya sebagai dokter paru yang juga merawat pasien Covid-19, ternyata memang kasus-kasus pasien dengan happy hypoxia itu memang terjadi,” kata Agus. Dia mengakui kondisi pasien happy hypoxia sydrome yang terlihat normal masih menjadi tanda tanya di dunia medis. “Itu masih menjadi tanda tanya para ahli-ahli di dunia. Kenapa pasien oksigennya sudah rendah, kok cenderung tampak biasa-biasa saja,” kata Agus. Baca juga: Inilah Nama Vaksin Virus Corona yang Diciptakan Rusia, Sputnik V Bahaya tak segera ditangani Akan tetapi, meski terlihat biasa saja, seorang pasien Covid-19 yang mengalami happy hypoxia syndrome bisa terancam nyawanya jika tak segera ditangani. Sebab, Agus mengatakan, tubuh manusia memiliki batas toleransi terkait jumlah oksigen. “Jadi mungkin di awal-awal pasien itu akan kelihatan biasa-biasa saja, tapi kalau dia terjadi happy hipoksia dalam waktu lama dan tidak diberikan terapi oksigen, maka dia akan tiba-tiba terjadi, istilahnya kematian mendadak,” kata Agus.

Baca juga : cara mencegah COVID-19 pada Klinik Gigi

Karena itu, dia menjelaskan tidak semua penderita Covid-19 tanpa gejala bisa mengisolasi diri. Penderita harus memeriksanya sendiri, karena khawatir mengalami happy hypoxia syndrome. Argus mengatakan: “Ini harus dipahami oleh masyarakat. Tidak semua orang yang asimtomatik dapat diisolasi secara mandiri. Karena tanpa adanya gejala, paru-paru berkembang menjadi pneumonia dan saturasi oksigen darah rendah. Hal ini disebabkan karena kurangnya oksigen akibat Happy Hypoxia.”

Sumber :

https://science.sciencemag.org/content/368/6490/455

https://www.medicalnewstoday.com/articles/covid-19-how-do-we-explain-happy-hypoxemia

https://www.kompas.com/tren/read/2020/09/07/064900365/berpacu-dengan-waktu-menemukan-penyebab-happy-hypoxia-pada-pasien-covid-19?

https://www.kompas.com/tren/read/2020/09/07/064900365/berpacu-dengan-waktu-menemukan-penyebab-happy-hypoxia-pada-pasien-covid-19?page=all

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *